Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) Kedua TNI AL Masuki Tahapan Keel Laying

2019-10-14 16:00:00

Surabaya, Senin 14 Oktober 2019 – Produksi Kapal BRS kedua TNI AL (W000302) memasuki tahapan keel laying atau pemasangan lunas kapal. Keel Laying dilaksanakan pada hari Senin, 14 Oktober 2019 bertempat di Grand Assembly Divisi Niaga PT PAL Indonesia (Persero). Acara tersebut dihadiri oleh Asisten Logistik KSAL Laksamana Muda Moelyanto didampingi Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) Budiman Saleh, disaksikan para pejabat TNI AL beserta jajaran Manajemen PT PAL Indonesia (Persero).

Gambar 1. Penyerahan Koin simbolis pelaksanaan Keel Laying oleh Dirut PT PAL Indonesia (Persero) kepada Asisten Logistik KSAL

Tahapan keel laying ini penting karena nantinya usia kapal akan dihitung sejak pertama kali pemasangan lunasnya. Kapal BRS kedua TNI AL ini memiliki panjang 124 meter, lebar 21,8 meter. Kapal tersebut mampu mengakomodasi pasukan, kru dan pasien sebanyak 651 orang. Kapal tersebut memiliki berat 7300 Ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 18 knot serta endurance 30 hari, kapal tersebut mampu untuk menampung 2 unit helikopter di dek dan 2 unit ambulance boat. Hingga tahapan keel laying Kapal BRS kedua telah mencapai 27% dari keseluruhan tahapan pembangunan dan tepat waktu.


Gambar 2. Penekanan tombol dalam Seremoni Keel laying

Proses pembangunan dilakukan dengan 6 starting point pada 6 zona pararel dengan pendekatan modular sistem untuk mempersingkat waktu pembangunan kapal. Dalam pembangunan tersebut PT PAL Indonesia (Persero) menggunakan fasilitas utama Graving Dock Semarang di Divisi Kapal Niaga, juga akan mengoptimalkan kapasitas yang ada seperti pembangunan blok-blok atas dilakukan di Divisi Kapal Perang, beberapa perlengkapan kapal seperti turning table dikerjakan di Divisi Rekayasa Umum. 


Gambar 3. Pengelasan penyambungan blok kapal

Fungsi Kapal BRS sangat pas dengan karakteristik dan wawasan maritim Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan sebagai negara yang terletak dalam kawasan ring of fire memiliki kerentanan bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi yang dapat diikuti oleh bencana sekunder seperti tsunami dan lainnya. Kapal BRS juga memiliki fungsi pengabdian masyarakat, dapat digerakkan ketika masyarakat membutuhkan, seperti ketika Peristiwa Wamena di Papua. Dengan situasi tersebut, Kapal BRS bersifat mobile dan dapat digerakkan kapan saja ke wilayah terdampak bencana alam atau bencana kemanusiaan yang membutuhkan untuk melaksanakan kegiatan tanggap darurat bencana. Kapal BRS dilengkapi dengan berbagai fungsi medis hingga tindakan medis. Fasilitas medis yang dimiliki setara dengan sebuah rumah sakit, hingga julukan sebagai rumah sakit mengapung layak diberikan pada Kapal BRS.